Singapura Larang HP di Sekolah, Siswa Kini Asyik Bermain dan Berinteraksi Langsung

Singapura Larang HP di Sekolah, Siswa Kini Asyik Bermain dan Berinteraksi Langsung – Mulai Januari 2026, Singapura resmi memperluas larangan penggunaan ponsel pintar dan jam tangan pintar di sekolah menengah. Berbeda dengan aturan sebelumnya yang hanya berlaku selama jam pelajaran, kebijakan baru ini mewajibkan siswa untuk menyimpan perangkat mereka di loker atau ransel selama berada di lingkungan sekolah, termasuk saat jam istirahat, kegiatan ko-kurikuler, hingga kelas tambahan .

Baca Juga: Mensos Gus Ipul Tinjau Sekolah Rakyat Baru di STIP Jakarta untuk Percepatan April 2026

Kebijakan Larangan di Tingkat Global

Langkah Singapura ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan kekhawatiran serius terhadap dampak ponsel pada konsentrasi dan interaksi sosial siswa. Berdasarkan laporan Global Education Monitoring UNESCO Maret 2026, 58 persen negara di dunia (114 sistem pendidikan) kini telah menerapkan kebijakan larangan serupa .

Dampak Positif: Siswa Jadi Asyik Bermain

Lantas, apa yang dilakukan siswa saat jam istirahat tanpa ponsel? Berbagai laporan menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih aktif bermain dan berinteraksi secara langsung.

Sejak kebijakan ini diterapkan, suasana di sekolah-sekolah Singapura berubah drastis. Waktu istirahat yang dulu dihabiskan dengan menunduk menatap layar, kini dipenuhi tawa dan aktivitas fisik. Para siswa bermain berbagai permainan tradisional dan modern, mulai dari catur, permainan papan strategi, hingga olahraga ringan seperti futsal dan bulu tangkis .

Pengalaman serupa juga terlihat di berbagai sekolah yang telah menerapkan kebijakan serupa. Di SMK Negeri 10 Semarang, program “Satu Hari Tanpa Gawai” yang digelar pada November 2025, siswa mengaku lebih banyak tertawa, bermain, dan berinteraksi langsung dengan teman-teman. “Awalnya terasa aneh tidak memegang HP seharian, tapi setelah ikut kegiatan ini ternyata sangat seru. Saya jadi lebih banyak ngobrol dan main bareng teman-teman. Rasanya lebih dekat dan menyenangkan,” ungkap Evan Pratama, siswa kelas XI .

Interaksi Sosial yang Lebih Nyata

Di sekolah berasrama yang sudah lebih dulu membatasi penggunaan gadget, seperti SMA Krida Nusantara dan Yayasan Al Ma’soem Bandung, siswa melaporkan bahwa aktivitas tanpa HP justru membuk

Seorang siswi SMK Negeri 10 Semarang, Moza Maheswari Rajendriya, mengaku kegiatan ini membuatnya sadar bahwa hidup tanpa HP sehari bukan hal yang sulit. “Justru terasa lebih tenang dan menyenangkan karena bisa beraktivitas bersama teman-teman,” ujarnya .

Belajar Tanpa Teknologi Tetap Menyenangkan

Kekhawatiran bahwa pembelajaran akan membosankan tanpa perangkat digital ternyata tidak terbukti. Di SMPN 10 Malang yang memiliki keterbatasan proyektor dan akses Wi-Fi, para mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menerapkan gamifikasi konvensional untuk membuat pelajaran Bahasa Inggris lebih interaktif. Mereka menggunakan Recount Bingo Blast (permainan bingo raksasa) dan Narrative Mystery Ball (mesin gacha berisi bola pertanyaan) yang membuat siswa antusias dan semangat belajar tanpa perlu gadget .

Pembelajaran coding dan informatika pun dapat dilakukan tanpa komputer. Aktivitas sederhana seperti menjadi robot dan programmer di atas grid lantai, membuat algoritma “memasak mi instan”, atau mengurutkan kartu angka sudah cukup untuk mengajarkan konsep berpikir komputasional .

Tantangan dan Dukungan Implementasi

Meski kebijakan ini mendapat dukungan luas, tantangan tetap ada. Seperti yang terjadi di Swedia, beberapa siswa berusaha mengakalinya dengan menyerahkan ponsel palsu . Oleh karena itu, aturan harus bersifat wajib dan konsisten. Menteri Pendidikan Swedia, Simona Mohamsson, menegaskan, “Ini seharusnya berlaku untuk semua orang di semua ruang kelas… tidak bersifat opsional” .

Pemerintah Singapura memberikan kewenangan kepada setiap sekolah untuk menyusun aturan disiplin secara fleksibel sesuai kebutuhan, selama tetap mengacu pada pedoman nasional . Sekolah juga didorong untuk menyediakan alternatif kegiatan yang menarik agar siswa tidak merasa kehilangan saat tidak memegang ponsel.

Hasil survei di Belanda menunjukkan dampak yang sangat positif. Sebanyak 75 persen sekolah menengah melaporkan siswa lebih mudah berkonsentrasi, dan 28 persen mencatat peningkatan prestasi akademik setelah larangan diberlakukan .

Apa Kabar Indonesia?

Di Indonesia, belum ada kebijakan resmi nasional yang mengatur larangan penggunaan ponsel di sekolah. Pembatasan saat ini masih bersifat opsional dan diterapkan secara mandiri oleh masing-masing sekolah. Namun, UNESCO mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan pendekatan desentralisasi, di mana kewenangan pembatasan ponsel diserahkan langsung kepada kepala sekolah dan pendidik .

Beberapa sekolah dan asrama di Indonesia telah membuktikan bahwa kebijakan ini dapat berjalan efektif. Dari SMK Negeri 10 Semarang yang menggelar program “Satu Hari Tanpa Gawai”, hingga SMA Krida Nusantara dan Al Ma’soem Bandung yang menerapkan larangan di lingkungan asrama, hasilnya positif: siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan hangat dalam berinteraksi .

Belajar dari Pengalaman Negara Tetangga

Menteri Pendidikan Finlandia, Anders Adlercreutz, menekankan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu. “Sekolah juga tempat mengembangkan keterampilan sosial. Dengan mata yang terpaku pada layar, berinteraksi dengan orang lain menjadi lebih sulit” .

Tinggalkan komentar