Curhat Siswa SD Usai Kerjakan Soal TKA Numerasi: Gampang-gampang Susah

Curhat Siswa SD Usai Kerjakan Soal TKA Numerasi: Gampang-gampang Susah – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD telah berlangsung mulai pekan lalu. Para siswa pun memberikan respons beragam terhadap soal numerasi. Mayoritas mengakui ujian ini terasa “gampang-gampang susah”.

Baca Juga: Jakarta Bakal Buka Pendaftaran 11 Sekolah Swasta Gratis, Cek Daftarnya

Numerasi Jadi Momok Meski Sekilas Mudah

Ujian TKA memang berfokus pada literasi membaca dan numerasi (matematika dasar). Bagi banyak siswa, soal numerasi sering kali menjadi tantangan terbesar. Meskipun angka-angkanya terlihat kecil dan mudah dihitung, siswa justru terjebak pada pemahaman cerita.

Seorang siswa kelas 6 SD di Yogyakarta, Ciko, mengeluhkan hal tersebut. “Aku kurang bisa nomor yang cerita-cerita itu. Aku kurang suka, mending nomor hitung-hitungan biasa,” keluhnya.

Soal Cerita vs Hitungan Biasa

Keluhan Ciko mencerminkan pola umum yang dirasakan siswa di berbagai daerah. Dalam soal cerita, anak harus membaca teks, menangkap maksud, lalu menentukan operasi hitung yang tepat. Sementara dalam hitungan biasa, mereka hanya langsung menghitung dengan angka yang jelas.

Proses inilah yang sering memakan waktu. Anak-anak bergumul dengan pemahaman kata kunci seperti “digabungkan”, “selisih”, atau “lebih banyak”. Padahal secara teknis, angka yang digunakan relatif sederhana.

Komentar Siswa Lain di Medsos

Sejumlah siswa lain membagikan curhat serupa di media sosial.

“Matematika cerita gitu kak, suka bikin puyeng. Bingung maksudnya dikali atau dibagi,” tulis seorang warganet cilik.

“Gua paling takut tuh soal tentang belanjaan. Siapa yang punya uang banyak, belanja, terus punya kembalian cuma dikit. Ngitungnya pake logika, bukan hafalan,” sahut lainnya.

Siswa juga sering terjebak karena terburu-buru membaca soal. Mereka lebih fokus pada angka besar yang tampil di soal dan mengabaikan detail kalimat.

Dilema Siswa: Logika vs Kecepatan

Dalam wawancara terpisah, seorang siswa di Jakarta mengaku soal hitung-hitungan cepat selesai. Namun saat masuk soal cerita dengan tiga atau empat kalimat, ia harus mengulang baca hingga dua kali.

“Saya suka kehabisan waktu karena terlalu lama mikir. Kadang juga salah nulis jawaban karena buru-buru,” ujarnya.

Inilah dilema utama numerasi. Anak harus mengombinasikan logika, bahasa, dan kecepatan hitung dalam waktu bersamaan. Bila salah satu aspek lemah, hasilnya akan kurang maksimal.

Harapan Orang Tua

Orang tua siswa berharap asesemen ini tidak hanya jadi ajang “ujian mematikan”. Sebagian menginginkan agar TKA lebih dijadikan alat evaluasi belajar, bukan penentu kelulusan.

“Gapapa susah, yang penting anak jadi tahu kelemahannya. Nanti bisa diperbaiki cara belajarnya,” kata Dian, ibu siswa kelas 5 di Bekasi.

Pesan untuk Siswa

Bagi siswa yang masih merasa kesulitan, para guru menyarankan agar lebih sering berlatih soal cerita secara mandiri di rumah. Latihan rutin dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus kecepatan berpikir.

Selain itu, biasakan membaca soal dengan teliti sebelum mulai menghitung. Garis bawahi kalimat yang berisi perintah atau kata kunci.

Dengan persiapan yang matang, siswa diharapkan lebih siap menghadapi soal-soal serupa di masa depan tanpa lagi mengeluh “gampang-gampang susah”.

Tinggalkan komentar