Pilu Siswa Madrasah Cianjur Belajar di Ruangan Tak Berdinding

Pilu Siswa Madrasah Cianjur Belajar di Ruangan Tak Berdinding -Bencana alam memang tak terduga, namun dampaknya sering kali berlangsung jauh lebih lama dari sekadar kejadian itu sendiri. Berita pilu datang dari Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sebanyak 170 siswa Madrasah Diniyah Takmiliyah (DTA) Sabilunajah Al Bariyah hingga kini masih harus menjalani kegiatan belajar mengajar di tempat yang sangat tidak layak, nyaris tiga tahun pasca gempa dahsyat yang meluluhlantakkan wilayah mereka pada tahun 2022.

Baca Juga: Ruang Belajar itu Tak Lagi Nyaman Usai Diterpa Kasus Sengketa Lahan

Belajar di Gubuk Bambu dan Area Ziarah

Bayangkan, ruang belajar para siswa ini hanya berupa gubuk bambu tanpa dinding dan area terbuka di sekitar pos ziarah makam. Tanpa dinding pelindung, hanya beratapkan genting dan beralaskan bambu, ruangan ini sama sekali tak mampu menahan terpaan cuaca.

Saat matahari terik, teriknya langsung menyengat kulit. Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam ruangan, membanjiri lantai dan memaksa para siswa mengungsi ke tengah ruangan atau bahkan menghentikan kegiatan belajar mengajar. “Kalau udah mendung langsung tidak tenang, takut hujan deras. Jadi belajar tidak fokus,” ungkap Hani (11), salah satu siswa, dengan polos namun menusuk nurani.

Pembagian Ruang Terbatas di Tengah Keterbatasan

Keterbatasan ruang yang parah memaksa pihak madrasah membagi lokasi belajar siswa Hampir 100 siswa kelas 4 hingga 6 belajar di gubuk bambu darurat tersebut. Sementara itu, siswa kelas 1 dan 2 belajar di rumah pribadi pimpinan madrasah, Misbahudin, dan siswa kelas 3 menempati lantai dua masjid setempat.

“Jadi memang ini kan ada dua ruangan, satu dari saung bambu itu dan tempat ziarah makam dan keduanya ruangan terbuka, jadi ketika hujan ya kita berhenti dulu, ke pinggir dulu sambil nunggu hujan reda,” tutur Misbahudin menjelaskan kondisi yang telah berlangsung selama tiga tahun ini.

Semangat Belajar yang Tak Tergoyahkan

Meski fasilitas yang ada sangat memprihatinkan, kabar baiknya adalah semangat belajar para siswa tidak ikut runtuh bersama bangunan madrasah mereka. Mereka tetap rajin mengikuti kegiatan mengaji dan pelajaran agama setiap hari sepulang dari sekolah formal.

“Alhamdulillah masih pada semangat walaupun dengan kondisi kekurangan fasilitas,” ujar Misbahudin, merasa terharu melihat ketekunan para muridnya. Ini adalah potret ironis: di satu sisi, mimpi memiliki ruang belajar yang layak masih jauh, tetapi di sisi lain, api semangat untuk menuntut ilmu tetap menyala-nyala.

Harapan yang Menggantung: Menanti Uluran Tangan

Sudah tiga tahun pasca gempa, selama itu pula belum ada bantuan signifikan atau tanggapan yang jelas dari pemerintah, baik di tingkat desa, kecamatan, hingga Kabupaten Cianjur. “Padahal kami sudah menyampaikan kondisi selama ini,” pungkas Misbahudin dengan nada getir.

Tinggalkan komentar